Senin, 2 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
brkjakartaselatan.orgbrkjakartaselatan.org
brkjakartaselatan.org - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Coba Isi Masa Pensiun dengan Gitar Tua dan Cat Air

Coba Isi Masa Pensiun dengan Gitar Tua dan Cat Air

Pensiun bukan akhir segalanya. Ini cerita saya menemukan kembali musik dan lukisan di usia senja, plus pelajaran yang mungkin berguna buat kamu.

Coba Isi Masa Pensiun dengan Gitar Tua dan Cat Air

Dulu saya pikir masa pensiun itu artinya duduk santai, nonton TV, sesekali jalan pagi. Ternyata setelah tiga bulan menjalaninya, saya justru hampir gila karena bosan. Anak-anak sudah besar, rumah sepi, dan tiba-tiba saja saya punya terlalu banyak waktu kosong. Dari situ saya mulai iseng membongkar gudang dan menemukan gitar lama saya yang berdebu. Senarnya sudah karatan, badannya retak halus di sana-sini. Tapi entah kenapa, saya merasa seperti bertemu teman lama.

Gitar Butut yang Mengubah Rutinitas Pagi Saya

Saya beli gitar itu tahun 1985, waktu masih kerja di kantor cabang. Dulu saya cuma bisa main kunci dasar, itupun sering fals. Jadi bayangkan betapa lucunya saya sekarang, sudah 60 tahun lebih, mencoba memetik ulang lagu-lagu Iwan Fals sambil duduk di teras. Jari-jari kaku, punggung pegal kalau kelamaan, tapi ada kepuasan aneh setiap kali berhasil memainkan satu lagu penuh tanpa berhenti.

Baca juga: Hobi Kreatif & Musik: Cara Pekerja Kantoran Tetap Waras

Awalnya saya malu. Tetangga pasti dengar, pikir saya. Tapi istri saya malah bilang, "Baguslah, daripada bapak cuma diem nonton berita terus." Sejak itu saya main gitar hampir tiap pagi, sekitar 20 sampai 30 menit sebelum sarapan. Nggak lama, tapi cukup buat bikin hari terasa lebih hidup.

Yang saya pelajari dari sini sederhana: jangan menunggu bisa baru mulai. Saya nggak pernah jadi gitaris handal, dan kemungkinan besar nggak akan pernah. Tapi itu bukan intinya. Intinya adalah prosesnya sendiri yang bikin saya merasa masih berguna, masih bisa belajar sesuatu yang baru meski usia sudah kepala enam.

"Hobi itu bukan soal jadi ahli. Hobi itu soal punya alasan buat bangun pagi dengan semangat."

Ketika Kuas dan Cat Air Ikut Masuk ke Dapur

Kalau gitar saya main di teras, lain cerita dengan cat air. Ini saya mulai sekitar dua bulan kemudian, gara-gara lihat cucu saya menggambar di buku sketsa. Saya iseng ikut coret-coret, dan ternyata... asyik juga. Saya beli satu set cat air murah di toko alat tulis dekat pasar, plus buku sketsa A5. Total nggak sampai seratus ribu.

Tempat favorit saya sekarang adalah meja makan. Istri saya sudah maklum kalau habis sarapan, meja itu jadi "studio" dadakan saya. Saya biasanya melukis apa yang ada di depan mata: pot bunga, cangkir kopi, atau kadang buah-buahan di mangkuk. Hasilnya? Jujur saja, masih jauh dari bagus. Tapi ada satu hal yang saya sadari: melukis itu memaksa saya fokus pada satu hal saja, dan itu semacam terapi buat pikiran yang biasanya melayang ke mana-mana.

Kenapa Justru Hobi "Nggak Jelas" Ini yang Cocok buat Pensiunan

Mungkin kamu bertanya, kenapa nggak sekalian ikut klub senam atau pengajian saja? Bukan berarti itu buruk, tapi buat saya pribadi, hobi kreatif seperti musik dan melukis punya daya tarik tersendiri. Beberapa alasannya:

  • Nggak ada target yang membebani. Saya nggak perlu lulus ujian atau menang lomba. Salah main gitar? Ulangi. Lukisan jelek? Sobek, mulai lagi. Nggak ada tekanan.
  • Bisa dilakukan sendirian tanpa merasa kesepian. Justru waktu sendirian itulah saya paling menikmati prosesnya. Nggak perlu ngobrol, nggak perlu sok ramah.
  • Melatih otak tanpa terasa seperti latihan. Menghafal kunci gitar atau mencampur warna itu sebenarnya olahraga otak juga, tapi nggak bikin stres.
  • Hasilnya bisa dibagi ke keluarga. Cucu saya sekarang sering minta diajari gambar kucing. Momen-momen kecil begitu yang bikin saya merasa masih berarti.

Ada juga sisi lucunya. Suatu hari saya sibuk melukis sampai lupa waktu, dan baru sadar sudah jam dua siang. Istri saya cuma geleng-geleng kepala sambil bilang, "Bapak ini kayak anak kecil aja." Saya cuma ketawa. Toh daripada saya keluyuran nggak jelas atau ngurusin hal yang nggak perlu, mendingan saya di rumah coret-coret.

Pelajaran yang Saya Dapat Setelah Setahun Menekuni Ini

Sudah setahun lebih saya rutin main gitar dan melukis. Nggak ada yang revolusioner dari hidup saya, saya juga nggak jadi terkenal. Tapi ada beberapa hal yang saya rasa penting buat dibagi, terutama buat kamu yang mungkin baru pensiun atau sedang menyiapkan masa itu.

Pertama, mulai dari yang paling gampang dan paling murah. Jangan langsung beli gitar mahal atau cat minyak impor. Gitar butut saya buktinya masih bisa dipakai. Kedua, jangan bandingkan diri dengan orang lain di internet. Saya sempat lihat video orang seusia saya main gitar jauh lebih jago, dan sempat bikin minder. Tapi kemudian saya sadar: saya bukan sedang berkompetisi. Saya cuma sedang menikmati waktu.

Ketiga, dan mungkin yang paling penting: libatkan orang di sekitar kamu. Istri saya sekarang kadang ikut nyanyi waktu saya main gitar. Cucu saya ikut melukis di sebelah saya. Hobi yang tadinya cuma buat mengisi waktu kosong pelan-pelan berubah jadi momen kebersamaan yang nggak ternilai.

Kalau kamu sekarang masih ragu mau mulai dari mana, saran saya cuma satu: coba dulu. Ambil gitar yang nganggur di lemari, atau beli buku sketsa dan pensil warna. Nggak perlu nunggu mood bagus atau nunggu punya alat lengkap. Kadang yang kita butuhkan cuma keberanian kecil buat memulai, dan sisanya akan mengalir sendiri.

Pensiun itu bukan akhir dari produktivitas. Justru ini kesempatan buat melakukan hal-hal yang dulu nggak sempat kita lakukan. Jadi, mau coba main gitar lagi, atau mulai coret-coret hari ini?

Tags: hobi pensiunan musik melukis waktu luang kreativitas