Gue tinggal di kecamatan kecil, sekitar 40 menit dari kota kabupaten. Warung kopi ada tiga, lapangan bola satu, dan sinyal kadang suka main petak umpet. Sebelumnya, kalau pulang kerja, rutinitas gue cuma rebahan, scroll HP sampai mata perih, lalu tidur. Hari-hari terasa sama aja. Hingga suatu malam, gue iseng nyari ukulele bekas di marketplace. Bukan karena gue musisi — gue bahkan nggak pernah belajar alat musik sebelumnya.
Sebulan kemudian, ada banyak hal yang berubah. Bukan cuma soal bisa main lagu, tapi cara gue ngisi waktu luang, cara gue ngobrol sama tetangga, sampai cara gue memandang rumah sendiri. Ini cerita jujurnya.
Minggu Pertama: Kikuk, Tapi Bikin Penasaran
Jujur, minggu pertama bikin frustrasi. Jari gue kaku, kunci C aja susah, apalagi F. Ukulele murah yang gue beli Rp180 ribu itu sempat gue lempar ke kasur dua kali. Tapi ada satu hal yang bikin gue nggak berhenti: rasa penasaran. Setiap kali berhasil pindah kunci tanpa jeda, ada sensasi kecil kayak menang lotre.
Di desa, hiburan itu terbatas. Bioskop nggak ada, kafe instagramable nggak ada. Jadi waktu gue duduk di teras sambil main ukulele, tetangga yang lewat mulai berhenti. Ada yang nanya, ada yang cuma nyengir. Salah satu bapak-bapak malah bilang, "Nah, gitu dong, daripada malam-malam main HP mulu."
Momen-momen kecil itu yang bikin minggu pertama terasa beda. Bukan karena gue udah jago, tapi karena ada sesuatu yang gue tunggu setiap pulang kerja.
Minggu Kedua sampai Ketiga: Waktu Luang Jadi Nggak Kerasa
Ini bagian yang paling gue rasain. Biasanya, jam 7 sampai 10 malam itu jam paling membosankan. Sekarang, jam segitu malah jadi jam yang gue tunggu. Gue mulai belajar dari video tutorial YouTube, kadang cuma 20 menit sehari. Nggak muluk-muluk, satu lagu satu minggu aja cukup.
Selain ukulele, gue juga coba hobi kreatif lain yang murah dan nggak butuh listrik banyak: sketsa pakai pensil. Gue beli buku gambar Rp15 ribu di kios alat tulis dekat pasar. Awalnya cuma iseng gambar pohon kelapa di depan rumah. Lama-lama, gue mulai gambar wajah tetangga, warung kopi langganan, sampai sawah yang habis panen.
Efeknya buat kepala gue luar biasa. Kalau biasanya gue overthinking soal kerjaan, sekarang pikiran gue "dipaksa" fokus ke satu hal. Nggak ada ruang buat mikirin hal-hal yang bikin cemas. Kata orang kerennya mindfulness, tapi buat gue mah simpel: tangan sibuk, kepala tenang.
Hal-hal kecil yang mulai berubah
- Gue jadi jarang main HP sebelum tidur, karena tangan pegang ukulele atau pensil
- Tidur lebih cepat, bangun lebih segar
- Mulai kenal lebih banyak tetangga yang ternyata juga punya hobi tersembunyi
- Pengeluaran buat jajan online turun, karena duitnya kepake buat beli alat gambar
- Nggak gampang bosan lagi kalau mati lampu — cukup nyalain lilin, main ukulele
Ada satu kejadian yang bikin gue senyum sendiri. Malam minggu, hujan deras, listrik mati. Biasanya gue kesal. Tapi malam itu, gue duduk di ruang tamu bareng adik gue, main ukulele sambil nyanyi lagu-lagu lama. Ibu gue ikut nimbrung. Malam yang biasanya kelam jadi salah satu malam paling hangat di rumah.
Minggu Keempat: Bukan Soal Bisa atau Nggak Bisa
Di akhir minggu keempat, gue sadar sesuatu. Ternyata yang berubah bukan cuma skill gue main ukulele atau gambar. Yang berubah adalah cara gue memandang waktu luang. Dulu, waktu luang itu kayak lubang yang harus diisi dengan sesuatu yang instan — scroll, nonton, jajan. Sekarang, waktu luang itu kayak tanah kosong yang bisa gue tanami apa aja.
"Hobi itu bukan buat jadi jago. Hobi itu buat bikin hidup kamu punya warna."
Gue juga mulai ngerti kenapa banyak orang di kota besar rela bayar mahal buat kursus musik atau kelas seni. Bukan karena mereka mau jadi artis, tapi karena mereka butuh ruang buat bernapas. Nah, di desa, ruang itu sebenernya udah ada — kita cuma sering lupa memanfaatkannya.
Yang perlu kamu siapkan kalau mau coba
Kalau kamu tinggal di kota kecil atau desa dan mau ikut nyoba, ini yang gue pelajari:
- Mulai dari yang murah. Ukulele bekas, pensil 2B, buku gambar. Total di bawah Rp200 ribu.
- Jangan nunggu mood. Mood itu datang setelah kita mulai, bukan sebelumnya.
- Cari teman. Nggak harus banyak, satu orang aja cukup buat saling nyemangatin.
- Jangan bandingin sama orang di internet. Mereka udah latihan bertahun-tahun, kamu baru sebulan. Santai.
- Rekam progres. Videoin aja pakai HP. Sebulan lagi, kamu bakal kaget lihat perkembangannya.
Setelah Sebulan, Apa yang Paling Terasa?
Kalau ditanya apa perubahan paling besar, gue nggak akan jawab "bisa main lagu" atau "bisa gambar wajah". Jawaban gue lebih ke: gue jadi punya sesuatu yang bisa gue kerjain sendiri, tanpa butuh orang lain, tanpa butuh uang banyak, dan tanpa butuh sinyal kuat.
Di kota kecil atau desa, kadang kita merasa pilihan hiburan itu terbatas. Padahal, keterbatasan itu justru bisa jadi berkah. Nggak ada distraksi berlebihan, nggak ada tuntutan buat tampil keren di media sosial. Kita bisa fokus ke proses, bukan ke hasil.
Gue nggak tahu kamu bakal pilih ukulele, gitar, gambar, atau mungkin menulis puisi di buku tulis. Yang jelas, coba dulu sebulan. Kalau nggak cocok, ganti hobi lain. Tapi kalau cocok — dan biasanya iya — kamu bakal ngerti kenapa gue nulis artikel ini sambil senyum-senyum sendiri.
Hidup di desa bukan berarti hidup yang membosankan. Kadang, yang kita butuh cuma satu hal kecil buat dikerjain setiap malam. Sisanya, biar waktu yang ngurus.